Disembunyikan Wewe Gombel

Foto : liputan6

Ditinjau dari judulnya, seperti yang kita ketahui, cerita seperti ini sangatlah umum dan seringkali kita mendengarnya. 

Namun, seseorang sudah sudi untuk berbagi kisahnya dengan saya untuk diceritakan ulang dalam bentuk cerpen. Sebut saja namanya Bang Mamad ( Nama samaran ) ini adalah kisahnya waktu masih kecil. 

***

Semburat jingga mulai tampak menghiasi langit, tanda akan beralihnya waktu. Biasanya, memasuki pergantian hari seperti ini, anak-anak sudah diperingatkan para orang tua agar segera pulang. Tak lupa untuk menutup pintu dan jendela, sebab menurut kepercayaan leluhur, dunia gaib akan memulai aktivitasnya, seperti halnya dunia manusia pada pagi hari. 

Mamad, bocah lelaki berusia 9 tahun. Bergegas pulang dari lapangan bersama kawannya, Irul. ketika mendapati lantunan syi'iran dari musholla kampung yang mulai menggema. Namun, ia terlihat mengernyit memegang perutnya sembari berjalan dengan langkah yang tertahan. 

"Kamu kenapa, Mad?" tanya Irul yang penasaran melihat kawannya tertinggal beberapa langkah di belakangnya. 

"Nggak tahu ini, Rul. Tiba-tiba mules banget, kamu duluan aja. Aku mau ke sungai," tuturnya sembari merangkul perutnya yang mungkin bertambah melilit. 

Irul mengangguk, membiarkan sahabatnya berbelok arah menuju sungai di ujung barat kampung. Maklum, waktu itu desa mereka masih terpencil dan belum banyak rumah yang memiliki WC. Hal ini sudah biasa dan tak aneh. Sebab saat itu, cara hidup mereka masih tradisional dan kolot. 

Langit sedikit menghitam ketika Mamad memandang ke atas, ada siratan raut cemas di wajahnya. Mungkin, takut dimarahi sang emak yang cerewetnya minta ampun. Akan tetapi, perutnya sudah tak bisa diajak kompromi. Ia mempercepat langkah agar bisa segera sampai di tujuan. 

Pohon bambu berjajar di pinggir jalan, menandakan ia akan segera sampai. Gesekan suara bambu yang berdecit, membuat Mamad mengusap tengkuknya. Angin pun berembus kencang menggerakkan deretan bambu itu seolah melambai akan menggapai Mamad. Ia terlihat bergidik, berlari kecil menjauhi pepohonan rindang tersebut. 

Mamad membuang napas lega saat sampai di pinggir sungai. Tanpa menunggu, ia memasuki bilik kakus yang terbuat dari potongan bambu yang ditancapkan di dasar sungai. Di sekililingnya ditutup dengan asbes yang tingginya hanya semeter. Ia segera berjongkok dan mengeluarkan isi perut yang sudah mendesak tak tertahan. 

Suasana gelap mulai menyelimuti, lamat-lamat terdengar suara azan magrib bersahutan dari beberapa surau. Mamad mengedarkan pandang ke sekitar, rona wajahnya mulai menunjukkan ketakutan. Hanya sinar rembulan yang menjadi penerangnya saat itu. 

Jika saja diantar sama emaknya, ia tak akan merasa gelisah seperti ini. Maklum, desanya masih asri, terkadang banyak binatang liar berkeliaran di pinggir-pinggir sungai. Masih banyak ular, biawak, bahkan buaya yang sering muncul mengagetkan warga. 

Seember air sudah tersedia di depannya untuk cebok. Setelah tuntas, ia mengambil gayung dan melakukan istinja'.

Keadaan semakin mencekam saat suara burung malam dan jangkrik mulai bersahutan, ia berdiri bersiap akan pulang. Namun, ia tercekat ketika melihat sebuah cahaya kuning berpendar dari balik semak mulai mendekat. Mulutnya menganga, tubuhnya bergetar tak karuan. 

Perlahan cahaya itu mulai tampak wujudnya, sebuah lampu teplok yang dipegang seorang wanita paruh baya. Mamad mengembuskan napas, tatkala netranya menemukan sang bude tersenyum menatapnya. 

"Mau ikut Bude?" tanya wanita berkebaya cokelat itu, sembari mengangkat lampu penerang di depannya. 

"Ke mana? Kalau dimarahi Emak gimana?" Polos ia bertanya dengan mengangkat kepala, memandang wajah kakak kandung emaknya itu.

"Pasar." Jelas dan singkat ia menjawab.

Mamad hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Seolah berpikir, tak apalah jika budenya yang mengajak, sang emak tak mungkin mempermasalahkannya. Keduanya berjalan melewati tepi sungai sambil bergandengan tangan. 

***

Nampak kebingungan di wajah Mamad, tatkala memasuki sebuah pasar malam. Tempat itu begitu ramai, lalu lalang warga memenuhi jalanan. Berbagai makanan dan kebutuhan hidup memenuhi lapak-lapak penjual. Ditambah suara alunan gamelan mendayu-dayu menambah riuh suasana. 

Tangannya masih setia menggamit lengan sang bude. ada sedikit siratan ketakutan dalam wajahnya ketika mendapati orang-orang dengan wajah pucat tanpa ekspresi, hampir semua orang terlihat seperti itu, bahkan tak terdengar candaan ibu-ibu yang biasanya saling tawar soal harga dengan penjual seperti yang dijumpai Mamad tiap paginya. 

Sang bude mengajak Mamad mengantre di lapak penjual jajanan. Aroma harum, gurih, dan legit memenuhi rongga hidungnya. Terlihat dari caranya mengendus dan mengusap perut seakan tak sabar. Ia mulai sumringah.

Ia seperti kalap saat sang bude memersilahkannya memilih apa saja yang ia mau. Mulai dari es dawet, bihun goreng, juga beberapa kue basah yang masih mengepul menggiurkan. 

Belum lagi tambahan beberapa buah-buahan mewah yang hampir tak pernah ada di meja makan di rumahnya. Seperti anggur, apel, juga kelengkeng kesukaannya. 

Kantong kreseknya penuh, berjubel. Mamad sangat girang. Sebab, status yatim yang disandangnya sejak berumur 3 tahun, membuat emaknya selalu membatasi segala apa yang diinginkannya, karena pekerjaan emaknya yang tak menentu. 

Mamad diajak duduk di sebuah pelataran pendopo yang menampilkan pergelaran wayang orang. Mereka duduk di atas tikar bambu yang sudah digelar memanjang. Plastik jajan ditaruh budenya di depan Mamad, tanpa menunggu arahan sang bude, bocah itu sudah membuka dan melahap beberapa jajan yang sudah dibelinya. 

Lengkingan suara tokoh wayang wanita begitu merdu mengalun-alun menendangkan lagu jawa. Mamad bukannya menikmati penampilan drama musikal di depannya, tetapi lebih senang melahap makanan yang jarang sekali ditemuinya di rumah. Tak hentinya ia mengunyah, diselingi seruputan es dawet dalam bungkusan plastik dengan sedotan. 

Terdengar riuhan gelak penonton, membuat Mamad ikut terbahak. Entah, dia tahu apa yang mereka tertawakan atau tidak. Ia hanya terlihat berusaha ikut menikmati pertunjukan untuk menyenangkan budenya yang sudah mengajak. 

***

Sementara itu, di rumah sederhana pinggir sawah. Bu Rimah, emak dari Mamad, mondar-mandir gelisah di depan pelataran rumahnya. Berkali-kali ia melirik jam dinding di tembok ruang tamu sembari matanya awas memandang jalanan depan rumah. 
Udin, kakak Mamad. Datang dari musholla dengan wajah mengernyit melihat emaknya yang sedang cemas. 

"Emak kenapa? Kog kayak bingung gitu?" tanya putra sulung Bu Rimah, remaja 19 tahun. 

"Kamu nggak liat adikmu tadi di langgar? Sudah jam segini, kog belum pulang." Ia masih celingukan menatap jalanan. 

Udin bergeming sebentar sembari mengernyitkan dahi, seperti sedang memikirkan sesuatu. 

"Tadi banyak, sih, Mak. Anak-anak yang ikut jema'ah seperti biasa, tapi ya masak aku neliti, apa ada Mamad apa enggak?" 

"Kalo gitu, coba kamu tanya sama Irul dan teman-teman lainnya. Wong surup-surup, kog, ya ndak pulang! Nanti kalo dibawa Wewe Gombel, gimana?" Emaknya semakin cemas berkacak pinggang. Ia mendengus berkali-kali. 

"Iya, Emak tenang aja. Mungkin, Mamad langsung berangkat ngaji ke rumah Abah Abdul. Udin pasti cari sampe ketemu, Emak Tenangkan pikiran," bujuk Udin memapah Emaknya masuk lalu mendudukkannya di kursi kayu panjang di ruang tamu. 

***

Rumah Irul, adalah tujuan pertamanya. Namun, kata ibunya, Irul sudah pergi mengaji. mendapat informasi itu, Udin secepatnya melaju ke rumah Abah Abdul memastikan. 

Tiba di pelataran luas rumah Abah Abdul,  hal pertama yang ia cari adalah sandal milik adiknya. Akan tetapi, ia tak menemukannya meski sudah menggeser beberapa tumpukan sandal yang ada. 

Dari dalam rumah, seorang anak yang melihat gelagat Udin melaporkannya pada sang ustaz. Dalam sekejap saja Abah Abdul sudah berdiri di depan Udin yang masih sibuk memporak porandakan sandal. Maklum, dulu masih sering ditemukan maling sandal. Abah Abdul berdehem keras, membuat Udin berjingkat kaget. 

"Eh, Abah. Maaf saya lagi cari Mamad, tapi, kog gak nemu sandalnya." Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal sebab tak enak. 

"Hari ini Mamad nggak ngaji, emang di rumah nggak ada?" jawab Abah Abdul yang makin membuat keduanya kebingungan. 

Mendengar kisah dari Udin, dari dalam ruangan Irul ke luar dan berjalan mendekat. Lantas menceritakan apa yang ia tahu. 

"Mas Udin, anu ... tadi pas pulang saat surup, Mamad pamit ke sungai, perutnya mules katanya," ungkap Irul yang semakin membuat Udin kaget. 

"Astaghfirullah! Kog, sampai jam segini belum pulang? Jangan-jangan ...." Udin tak dapat melanjutkan kalimatnya, ia gelisah, seakan takut jika yang dikatakan Emaknya tadi benar adanya.

"Jangan panik dulu, kamu cari dia di sungai, nanti kalo nggak juga ketemu kita cari sama-sama." Usul Abah Abdul menenangkan Udin. Ia mengangguk lalu bergegas pulang.

***

Emaknya yang berada di teras seketika berdiri ketika menemukan si sulung pulang tanpa membawa adiknya. 

"Kamu, kog, pulang sendiri? Mamad mana?" 

"Em ... Anu, Mak. itu ...." Kebingungan ia menjawabnya, takut emaknya kepikiran. 

"Kamu itu kalo jawab yang bener!"

Udin mengembuskan napas berat, 
"Mamad dari tadi sore ke sungai, kata Irul." 

Seketika emaknya lemas, terduduk di kursi rotan depan rumah. Udin segera bersimpuh di bawahnya mengelus tangan Bu Rimah.

"Ya Allah, Mamad ... bener firasatku sejak tadi, sungai itu sungil ( wingit ) Le, tempatnya memedi, hewan-hewan buas juga. Kalo kejebur juga fatal, bisa hanyut! Astaghfirullah!"

"Jangan pikir macem-macem dulu, Mak. Mari kita cari sama-sama. Abah Abdul juga mau bantu kalo Mamad belum juga ditemukan. Udin ambil senter dulu, ya!" 

Bergegas ia ke dalam rumah, kemudian berjalan tergesa beriringan dengan Bu Rimah menyusuri sungai. 
Teriakan panggilan nama Mamad menggema memenuhi pinggiran sungai, membuat beberapa warga yang rumahnya dekat dengan sungai mulai menghambur mencari sumber suara. 

Hampir semua orang yang ditanyai Udin dan emaknya tak tahu keberadaan Mamad, Bu rimah mulai terisak, tak tahu lagi harus bagaimana. Semua orang mulai membantu pencarian Mamad, atas perintah Udin, seorang warga pergi menjemput Abah Abdul untuk membantu. 

Hanya beberapa menit saja, Abah Abdul sudah berada di lokasi. Dengan sigap, ia mulai membagi warga menjadi beberapa kelompok, menyusuri semak-semak dan deretan bambu yang berjejer di pinggir sungai, ada juga yang disuruh menyorot aliran sungai. Sebab, kemungkinan hanyut bisa saja terjadi. 

Sedang emaknya ditemani ibu-ibu menunggu sembari sesenggukan duduk di belakang rumah warga. Waktu sudah semakin larut, tetapi tanda keberadaan Mamad belum juga menemui titik terang, beberapa warga mulai lelah, berhenti mencari dan duduk mengibas-ibaskan kausnya. 

Bu Rimah berulang kali berucap maaf pada para pencari. Abah Abdul mulai berpikir kembali, ia menengahi para pencari lalu memberi sebuah gagasan. 

"Maaf, Bu Rimah. Saya harus mengatakan ini, sepertinya hilangnya Mamad ini ada hubungannya sama makhluk tak kasat mata. Saya minta semua orang mengambil apa saja peralatan dapur dan membunyikannya sembari memanggil nama Mamad, saya akan mencarinya melalui mata batin. Terus bunyikan sampai Mamad benar-benar ketemu! Udin, kamu atur pencarian ini, jangan sampai ada yang terlewat! Sebab, jika Mamad sudah terlalu nyaman di sana, akan sulit membawanya kembali pulang." Gagasnya saat itu juga. 

Udin dan warga lainnya bergegas melakukan perintah Abah Abdul, sang emak hanya bisa berdo'a sembari terisak dalam pelukan kakak kandungnya, bude dari Mamad. 

Abah Abdul mulai duduk di kursi bersandar pada tembok belakang rumah warga, ia memejam. Semua mulai melakukan aktivitasnya. Bunyi pukulan tampah, wajan dan panci tanpa irama memekakkan telinga. Mereka berjalan menyebar sambil memanggil nama Mamad bersahut-sahutan. 

***

Sementara itu, di dunia yang berbeda, Mamad beserta sosok yang mirip budenya masih asyik duduk menikmati pertunjukan. Perut Mamad terlihat membuncit, sepertinya ia kekenyangan, tetapi merasa sayang jika tidak dihabiskan. 

"Buahnya dimakan juga, biar tambah sehat. Habis ini kita pulang ke rumah Bude, sudah malam." Bujuk sang bude menyodorkan buah. 

Mamad melahap semua buah-buahan itu tanpa jeda, senyumnya semakin merekah. Namun, lamat-lamat ia mendengar suara tabuhan benda serampangan membuatnya mengernyit. Anehnya, beberapa orang di sampingnya mulai berjoget, seakan menikmati alunan suara tanpa irama tersebut. Ia semakin celingukan, tatkala budenya pun mulai  mengikuti irama.

"Mad, ayo pulang, Nak. Emakmu menunggu!" Ia terdiam, sepertinya ia mengenal suara itu. 

"Ikuti suaraku!" Suara itu semakin jelas, itu suara ustaz ngajinya, Abah Abdul. 

Ia berjingkat kaget, saat netranya melihat makanan di hadapannya berubah menjijikkan, es dawet yang ia pegang berubah menjadi cairan merah kental kehitaman. Bihun yang tinggal sedikit berubah menjadi cacing panjang yang menggeliat, begitu pula dengan buah-buahan yang terlihat segar tadi, busuk dan penuh belatung. 

Ia menggembungkan pipi, mual. Seketika memuntahkan isi perutnya. Bibirnya gemetaran melihat muntahannya berupa onggokan daging busuk dan anyir. 

Ia semakin ketakutan, tatkala rambut budenya perlahan tergerai panjang, payudaranya menggelantung sampai ke bawah, tangan dan kakinya memanjang keriput dengan kuku-kuku runcing. Napasnya tersengal, perlahan ia mundur. Keringatnya mengucur deras. 

Beruntung bebunyian itu masih membuatnya berjoget tak memedulikan Mamad. Orang-orang di sekitarnya berubah pula menjadi sosok-sosok mengerikan. Ia menangis, tetapi dengan isakan yang tertahan, seakan takut mengusik berbagai makhluk yang mengelilinginya. 

"Cepat! Pergi, Nak. Tinggalkan mereka!" Bisikan itu menyadarkannya kembali.

Ia mulai mengendap-endap pergi, lantas berlari kencang. Saat sudah merasa aman, ia membalikkan badan. Betapa terkejutnya Mamad, ketika melihat pasar tadi berubah menjadi tumpukan semak dan pepohonan rimbun, begitu gelap dan mencekam. 

Secepatnya ia berlari tak tentu arah, terjatuh berkali-kali. Tangan dan kakinya tergores semak belukar sebab gelapnya keadaan. Ia terus menangis memanggil Emaknya. 

"Mamad, tenangkan dirimu, ikuti suaraku. Kamu akan menemukanku!" Ia mulai menarik napas kemudian mendengarkan dengan seksama suara panggilan itu. 

Abah Abdul tak hentinya mengarahkannya pulang, ia tak ingin sambungan suaranya terputus. Sebab, jika panggilannya tak digubris, Mamad akan kehilangan kesempatan untuk kembali. 

Perlahan Mamad mulai merasakan bunyian tabuhan semakin terasa mendekat, suara orang-orang yang memanggil namanya juga tergiang di telinganya. Ada secercah cahaya menyilaukan di depan.

"Masuk, Mad. Itu jalanmu pulang!" Ia mendengarnya sembari terharu, lantas berlari menuju cahaya itu dan menembusnya. 

Krasak! krasak! 

Udin menoleh menuju suara semak yang bergemeresak, membelahnya. Seketika Ia berucap syukur menemukan adiknya meringkuk dalam semak, ia memeluknya sambil berteriak kepada semua orang. 

"Mamad sudah ketemuuu!"

Semua orang berhenti membunyikan alat, mengerubungi Udin dan Mamad. Keadaan Mamad begitu miris, tubuhnya penuh luka dan dari mulut sampai ke kausnya penuh noda darah mengering dan amis. Udin menggendongnya menuju Bu Rimah, emaknya berteriak girang dan menangis haru, memeluk dan Menghujani kepalanya dengan ciuman.

Semua orang ikut larut dalam keharuan, budenya mendekat dan mengusap punggungnya. Namun, Mamad berteriak kencang saat melihatnya. 

Ia pun mulai menceritakan semua yang dialaminya itu. Semua orang terlihat ngeri mendengarnya. Abah Abdul kemudian berpesan, agar jangan pernah membiarkan anak-anak bermain saat menjelang malam. 

Sekian. 

 

Sidoarjo, 16 Januari 2021